PRIANGAN.ID – JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi pergerakan Bibit Siklon Tropis 91S yang terpantau aktif di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB). Keberadaan sistem cuaca ini berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi di sejumlah wilayah.
BMKG menjelaskan, Bibit Siklon Tropis 91S mulai terbentuk pada 21 Januari 2026 pukul 13.00 WIB. Berdasarkan hasil monitoring BMKG pada Kamis (22/1/2026), sistem tersebut berada di sekitar Samudra Hindia selatan NTB.
“Bibit Siklon Tropis 91S memiliki peluang sedang untuk menjadi siklon tropis,” tulis BMKG dalam informasi yang dibagikan melalui akun Instagram resminya, Kamis (22/1/2026).
BMKG menyebut bibit siklon ini memberikan dampak tidak langsung terhadap sejumlah wilayah. Dampak tersebut antara lain hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di NTB, serta hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.
Selain hujan lebat, Bibit Siklon Tropis 91S juga berpotensi memicu angin kencang di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta gelombang tinggi di sejumlah perairan.
BMKG memetakan wilayah yang berpotensi mengalami gelombang tinggi sebagai berikut:
Gelombang 1,25–2,5 meter:
- Laut Bali
- Laut Flores
- Selat Bali
- Selat Lombok
Gelombang 2,5–4 meter:
- Perairan selatan Jawa Tengah hingga NTT
- Laut Sawu
- Samudra Hindia selatan Jawa Tengah hingga NTT
- Laut Arafuru bagian barat
“Masyarakat pesisir dan pelayaran di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi,” kata BMKG.
Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 97S yang sebelumnya terpantau, kini dinyatakan sudah tidak aktif. BMKG menyebut sistem tersebut melemah dan tidak lagi menunjukkan potensi berkembang menjadi siklon tropis.
BMKG menjelaskan pelemahan Bibit Siklon Tropis 97S disebabkan oleh berkurangnya dukungan parameter atmosfer, yang ditandai dengan kecepatan angin yang tidak lagi signifikan.











